Buku Etika Bisnis



Buku Etika Bisnis
Pengarang DR. A. Sonny Keraf 1998

1.      Definisi etika bisnis
             Etika berasal dari kata Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya (ta etha) yang berarti adat  istiadat atau kebiasaan. Dalam pengertian ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masayarakat atau kelompok masyarakat. Berart etika ini berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain. Kebiasaan ini lalu terungkap dalam perilaku berpola yang terus menerus berulang sebagai kebiasaan.

2.      Klasifikasi etika bisnis
             Klasifikasi etika bisnis menurut Dr. A Sonny Keraf terdiri dari:
1.      Tiga (3) norma umum, terdiri dari:
-          Norma sopan santun
Disebut juga norma etiket yaitu norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia, misalnya menyangkut sikap dan perilaku seperti bertamu, makan dan minum, duduk dan sebagainya. Norma ini tidak menentukan baik buruknya seseorang sebagai manusia, karena ia hanya menyangkut sikap dan perilaku lahiriah.

-          Norma hukum
Adalah  norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyaraka. Norma ini mencerminkan harapan, keinginan dan keyakinan seluruh anggota masyarakat tersebut tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang baik dan bagaimana masyarakat tersebut harus diatur secara baik, karena itu ia mengikat semua anggota masyarakat tanpa terkecuali.

-          Norma moral
Adalah aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia. Norma ukur lalu menjadi tolak ukur yang dipakai oleh masyarakat untuk menentukanbaik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, entah sebagai anggota masyarakat ataupun sebagai orang dengan jabatan atau profesi tertentu.

2.      Dua (2) teori etika, terdiri dari:
-          Etika deontologi
Berasal dari kata Yunani deon  yang berarti kewajiban. Karena itu, etika ini menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Menurut etika deontologi, suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Misalnya suatu tindakan bisnis akan dinilai baik oleh etika deontologi bukan karena tindakan itu mendatangkan akibat baik bagi pelakunya, melainkan karena tindakan itu sejalan dengan kewajiban sipelaku untuk memberikan pelayanan yang baikkepada semua konsumen.

-          Etika Teleologi
Yaitu mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau
dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Misalnya, mencuri bagi etika teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan baik buruknya tindakan itu sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu.

3.      Prinsip etika dalam bisnis
-          Prinsip Otonomi
Yaitu sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

-          Prinsip Kejujuran
Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.

-          Prinsip Keadilan
Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai criteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.

-          Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle)
Menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.

-          Prinsip Integritas Moral
Terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan atau orang-orangnya maupun perusahaannya.

4.      Model etika dalam bisnis
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga tingkatan manajemen dilihat dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan etika dalam bisnisnya.

-          Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.

-          Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau tidak.

-          Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.


5.      Studi kasus
Contoh perusahaan yang menerapkan etika bisnis 
PT POS INDONESIA Dalam Menerapkan Etika Bisnis
Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja suatu perusahaan/organisasi adalah dengan cara menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan Good Corporate Governance (GCG) merupakan pedoman bagi Komisaris dan Direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dengan dilandasi moral yang tinggi, kepatuhan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perseroan terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholders) secara konsisten.

Maksud dan tujuan penerapan Good Corporate Governance di Perusahaan adalah sebagai berikut:

a)                  Memaksimalkan nilai Perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional.

b)                 Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.
c)                  Mendorong agar manajemen Perusahaan dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar Perusahaan.

d)                 Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional

e)                  Meningkatkan nilai investasi dan kekayaan Perusahaan.




Nama   : Warsilia Wilna Setiana
Kelas    : 3EA16
NPM    : 1C214185
Matkul : Etika Bisnis
Tugas   : Pertemuan 1 Buku Etika Bisnis


Jurnal Etika Bisnis

Tugas 1 : Jurnal Etika Bisnis



Jurnal 1


Christopher J. Robertson Nicholas Athanassiou, (2009),
"Exploring business ethics research in the context of international business", Management Research News, Vol. 32 Iss 12 pp. 1130 - 1146
Permanent link to this document:

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji lingkup, tignkat dan isi penelitian erika bisnis dalam 3 bisnis internasioanal, yaitu : Jurnal Studi Bisnis Internasional (JIBS), Jurnal Dunia Bisnis (JWB) dan Manajemen Internasional Ulasan (MIR).

Aliran-aliran penelitian dalam etika bisnis internasional. Pertama yaitu aliran penelitian yang telah muncul adalah analisis komparatif dari sistem hukum dan kode etik lintas batas. Misalnya, Schultz dan Saporito (1996) mempelajari perlindungan kekayaan intelektual dari perspektif global. Kedua Aliran penelitian utama kedua yang telah muncul dalam lintas budaya literatur etika adalah studi tentang isu-isu lingkungan lintas batas. Rugman dan Kirton (1998) menilai implikasi lingkungan dari NAFTA. Aliran ketiga yaitu menekankan konteks etika macroenvironmental. Dalam sebuah penelitian terobosan baru lintas-budaya korupsi oleh Husted (1999) itu menyimpulkan bahwa ethicality terkait dengan tindakan tingkat makro seperti GNP per kapita, jarak kekuasaan, maskulinitas dan menghindari ketidakpastian.

Jika sebuah artikel yang dianggap memiliki fokus utama pada topik etika maka kita termasuk yang artikel di penghitungan kami secara keseluruhan untuk jurnal tertentu. Meskipun penelitian banyak perdebatan atas apa yang membentuk etika berbasis mungkin, kami memutuskan untuk mendirikan sebuah standar untuk tujuan penilai penelitian etika-terfokus. Konsensus di penilai dicapai untuk setiap topik termasuk dalam standar kami. masalah perkenalan khusus dan komentar editorial tidak dihitung. Sebuah berjalan menghitung dari total tahunan artikel dan jumlah etika yang berfokus artikel itu terawat. topik baru yang ditambahkan sebagai penelitian dianalisis.

Tiga jurnal disaring untuk artikel dengan etika bisnis internasional sebagai topik penelitian mereka selama periode sepuluh tahun 1996-2005 sebagaimana digariskan oleh konstruksi. Selain pengecualian dari perkenalan dan komentar editorial, analisis kami juga dikecualikan ulasan buku, berita kematian, upeti khusus, perspektif, pengenalan sinopsis, komentar / balasan, "Dari Editor" artikel, wawancara, dan setiap artikel non-penelitian lain dari jumlah total. Artikel yang dievaluasi manajer pada beberapa nilai manajerial dan budaya dimasukkan jika setidaknya satu dari nilai-nilai adalah ukuran dari perilaku etis, moralitas atau integritas sebagaimana didefinisikan dalam konstruksi.

Antara tahun 1996 dan 2000 25 etika fokus artikel muncul dibandingkan dengan 17 artikel etika yang berfokus antara tahun 2001 dan 2005. Meskipun agak mengganggu, satu penjelasan untuk lintasan negatif ini adalah bahwa etika bisnis sarjana telah melihat lebih ke arah manajemen dan etika jurnal sebagai outlet penelitian untuk artikel yang berfokus pada penyimpangan perusahaan di Amerika Serikat, sedangkan etika bisnis internasional penelitian meliputi aspek yang lebih konseptual tantangan karena mereka berhubungan dengan manajerial keputusan yang dipengaruhi oleh kegiatan lintas batas. Dalam rangka untuk lebih mengidentifikasi kesamaan di bidang tematis, analisis isi dari 42 artikel yang muncul selama masa peninjauan dilakukan. Ini analisis mendalam mengungkapkan tujuh tema konseptual yang telah muncul di internasional etika bisnis sastra. 

Meskipun niat kita dalam meta-analisis adalah untuk memeriksa keadaan penelitian etika bisnis yang diterbitkan di jurnal bisnis internasional atas, kami menyadari bahwa etika bisnis internasional penelitian juga dipublikasikan dalam berbagai outlet lainnya, seperti Journal of Etika Bisnis, Jurnal Penelitian bisnis, Academy of Management Journal, dan Etika Bisnis Triwulan. Journal of Business Ethics, meskipun terutama target etik peneliti daripada peneliti bisnis internasional, tidak memiliki bagian Manajemen Internasional dan merupakan satu-satunya jurnal etika muncul di daftar jurnal Financial Times 40. Oleh karena itu kami memutuskan untuk melakukan tindak lanjut analisis dari semua artikel yang dipublikasikan selama periode sepuluh tahun yang sama (1996-2005) untuk tujuan perbandingan.

Sejumlah implikasi bagi manajer dan pemasar internasional dapat dilihat dari penelitian ini. Pertama, mendapatkan pemahaman yang lebih rinci yang topik yang paling menonjol dalam literatur akademik dapat membantu para praktisi lebih baik memastikan tidak hanya topik yang sering dipelajari tetapi juga topik yang telah diabaikan oleh para sarjana. Kesenjangan ini berpotensi dapat dijembatani berdasarkan umpan balik dari manajer terkait dengan sebenarnya pengalaman dunia nyata mereka dengan masalah etika yang beragam dalam bisnis internasional. Kedua, upaya kami terkait dengan penciptaan tema etis dapat membantu para praktisi dalam upaya mereka untuk menyampaikan program pelatihan etika fokus dan berkerumun. Dan ketiga, penelitian kami telah menghasilkan total 42 artikel kunci selama periode sepuluh tahun yang membahas beragam isu etika dalam bisnis internasional. sintesis ini harus menghemat manajer dan jurnal praktisi berfokus tertarik pada topik ini sejumlah besar waktu dan usaha ketika mencari informasi spesifik yang berhubungan dengan area konten ditutupi oleh meta-analisis kami.









Jurnal 2

Byung Gyoo Kang Francis Edum-Fotwe Andrew Price Tony Thorpe , (2014),
" The application of causality to construction business ethics ", Social Responsibility Journal, Vol. 10 Iss 3 pp. 550 - 568
Permanent link to this document:

Makalah ini bertujuan untuk menyelidiki dua konsep kausalitas, bidang kontrol (SOC) dan agent- tindakan-hasil (AAR), dan aplikasi potensi mereka untuk etika bisnis konstruksi. SOC digunakan dalam pelatihan etika, dan AAR diterapkan untuk pembuatan keputusan etis (EDM). Desain / metodologi / pendekatan - Sebuah kerangka pelatihan etika dan kerangka EDM untuk perusahaan konstruksi telah dikembangkan.

Penelitian dilakukan secara paralel untuk kedua pelatihan etika untuk konstruksi dan EDM dalam konstruksi. tinjauan literatur yang luas telah dilakukan untuk kedua pelatihan etika dan EDM, dan dua kerangka kerja untuk konstruksi telah dikembangkan berdasarkan tinjauan literatur. Sebuah survei kualitatif dilakukan untuk menguji validitas kerangka EDM.

Locus of control dan ethicalness. Locus of control (LOC) adalah alat psikometri yang dirancang untuk menilai seberapa banyak kontrol individu percaya bahwa dia / dia memiliki lebih dari hasil dalam hidup. Hal ini didasarkan pada apakah seseorang melihat hubungan kausal antara / nya perilaku dan hasil potensi perilaku ini. Orang internal yang percaya pada hubungan sebab akibat antara / tindakannya sendiri dan hasil yang diharapkan. Mereka percaya dalam masyarakat di mana keberhasilan mungkin dirasakan lebih fungsi keberuntungan atau yang berhubungan dengan orang yang tepat daripada usaha atau kemampuan (Rogers dan Smith, 2001; Lefcourt, 1990). Berikut adalah langkah-langkah dari LOC yang paling populer (Lefcourt, 1990) :
1.      Internal-Eksternal (I-E) Skala LOC.
2.      Internalisasi, Lainnya Kuat dan Kesempatan Timbangan.                                 
3.      Spheres Skala Control (Paulhus dan Christie, 1981).      
4.      Dewasa Nowicki-Strickland I-E Skala Control.

          SOC dan etika pelatihan. Skala I-E Rotter adalah ukuran yang paling banyak digunakan di LOC. Paulhus dan Christie (1981) mengembangkan SOC terdiri kendali pribadi, kontrol interpersonal dan sosial-politik kontrol (30 item), contoh ini, masing-masing, "Saya biasanya mencapai apa yang saya inginkan ketika saya bekerja keras untuk itu", "Dalam saya hubungan pribadi, orang lain biasanya memiliki kontrol lebih besar atas hubungan daripada saya ", dan" dengan mengambil bagian aktif dalam urusan politik dan sosial kita, orang-orang, dapat mengontrol kejadian dunia ".

          EDM dalam Bisnis. Literatur tentang EDM dalam bisnis telah ditinjau untuk menyelidiki kemungkinan aplikasi untuk konstruksi. Dengan perbandingan temuan dari dua studi, tren penelitian di EDM dalam bisnis dapat diartikan. Kebangsaan, perkembangan moral, agama, kode etik dan lain-lain yang signifikan adalah daerah dengan tren penelitian yang positif.

Dalam tulisan ini, keputusan alternatif dibandingkan sebagai "etika" versus "tidak etis", atau "lebih etis" versus "kurang etis", yang memungkinkan pengambil keputusan untuk memahami wawasan intuitif pada situasi tertentu. Dalam proses ini, pembuat keputusan dapat mengembangkan alternatif keputusan dan hasil yang mungkin yang akan dibingkai dalam format ringkas dan terstruktur untuk dievaluasi dan diukur melalui "etika layar". Hal ini akan memungkinkan pembuat keputusan untuk memperjelas prioritas keputusan alternatif yang lebih etis dan obyektif.

Makalah ini menunjukkan pelatihan etika dan EDM sebagai core dari manajemen etika dalam konstruksi, yang mengarah ke perkembangan dari kerangka. program umum terdiri dari masalah etika saat ini, teori-teori etika dan kode etik dan perilaku. Untuk mencerminkan fitur berbasis proyek konstruksi, kode etik dibagi menjadi kode etik dan kode proyek-spesifik perilaku.

          Tingkat perusahaan telah dianggap sebagai salah satu yang paling penting, karena dilema etika secara langsung terkait dengan transaksi bisnis dari korporasi. faktor individu-tingkat telah dianggap lebih penting daripada yang tingkat proyek. Hal ini untuk mencerminkan bahwa, pada tahap ini, peran pembuat keputusan lebih berpengaruh dalam konsekuensi etis dari tim proyek, seperti proyek belum resmi dimulai.
          

Nama    : Warsilia Wilna Setiana
Kelas    : 3EA16
NPM     : 1C214185
Matkul  : Etika Bisnis
Tugas    : Pertemuan 1 Jurnal Etika Bisnis

Template by:

Free Blog Templates