Ringkasan Jurnal 1
STRATEGI
PENGEMBANGAN PRIMER KOPERASI
Studi
Di Primer Koperasi Produsen Tempe Dan Tahu Indonesia (PRIMKOPTI) Bangkit Usaha
Kota Malang
Oleh :
Rachma Vita
Oktaviana, Agus Suryono, Imam Hanafi
koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan
orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan. Koperasi produsen merupakan koperasi yang
beranggotakan para produsen barang dan memiliki usaha rumah tangga. Koperasi
Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (KOPTI) disebut sebagai koperasi produsen
karena bertugas untuk meningkatkan kemampuan ekonomi perusahaan-perusahaan
anggota (usaha pengolahan tempe dan tahu milik anggota). Koperasi Berkualitas
adalah koperasi sebagai badan usaha aktif yang dicirikan oleh prinsip-prinsip
kohesivitas dan partisipasi anggota yang kuat dengan kinerja usaha yang semakin
sehat dan berorientasi kepada usaha anggota serta memiliki kepedulian sosial. mengembangkan
koperasi maka koperasi juga harus melaksanakan pula prinsip koperasi yaitu
keanggotaan bersifat suka rela dan terbuka, pengelolaan dilaksanakan secara
demokratis, pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usahamasing-masing anggota, pemberian balas jasa yang terbatas
terhadap modal, kemandirian, pendidikan perkoperasian, serta kerja sama antar
Koperasi . Pengertian strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan:
a)Kebijaksanaan pelaksanaan b)Penentuan tujuan yang hendak dicapai c)Penentuan
cara-cara atau metode penggunaan sarana-sarana tersebut.
Pembahasan
Visi dan misi Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu
Indonesia (PRIMKOPTI) Bangkit Usaha adalah sebagai berikut : Visi “Meningkatkan
Sember Daya Manusia (SDM) Seluruh Anggota Koperasi” sedangkan Misi nya adalah
“Meningkatkan Kesejahteraan Anggota Koperasi”,David (2009,h.102), ada sembilan
komponen pernyataan visi dan misi yang merupakan hal penting antara lain yaitu
: 1)Konsumen (Customer),2)Produk atau jasa (product and service),
3)Pasar (market), 4)Teknologi (technology), 5)Fokus pada
kelangsungan hidup, pertumbuhan dan pfofitabilitas (concern for survival,
gorwth, and profitability), 6)Filosofi (philosophy), 7)Konsep diri (selft
concept),8)Fokus pada citra publik (concern for public image),
9)Fokus pada karyawan (concern for employees).
Dalam menetapkan tujuan jangka panjang biasanya di tetapkan
antara dua sampai lima tahun sekali. tujuan jangka panjang PRIMKOPTI Bangkit
Usaha Kota Malang yaitu untuk meningkatkan sarana prasarana koperasi. Dengan
menetapkan tujuan jangka panjang meningkatkan sarana dan prasarana antara lain
menyediakan mesin pemecah kedelai koperasi dan mengadakan diklat mengenai
perkoperasian diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan koperasi. kekuatan
eksternal dapat dibagi menjadi beberapa kategori besar yaitu
1. Kekuatan
Budaya
Konsumsi kedelai
dari tahun ke tahun terus meningkat. Yang mana 50 persen digunakan dalam bentuk
tempe 40 persen tahu dan sisanya untuk bahan olahan lainnya, akan tetapi yang
masih diplih adalah kedelai impor yang lebih murah dari kedelai lokal
2. Kekuatan
Pemerintah
Saat ini
pemerintah sedang menggalakan program-program untuk meningkatkan perekonomian
rakyat dengan pengembangan UKM & koperasi,berbagai pelatihan serta
pembinaan intensif dilakukan oleh pemerintah Kota Malang.
3. Kekuatan
Teknologi
Perkembangan
pengetahuan teknologi budidaya kedelai telah banyak berkembang dan dilakukan di
Indonesia akan tetapi belum banyak dilakukan petani lokal sehingga banyak
petani enggan menanam kedelai,dan menyebabkan makin banyak impor kedelai, dalam
pemecahan kedelai telah terdapat teknologi pemecah kedelai untuk mempermudah
pengrajin kedelai,berkembangnya internet dapat memupuskan jarak dan dapat
menjadi sumber pengetahuan bagi pengrajin kedelai
4. Kekuatan
Kompetitif
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang merupakan satu-satunya wadah
koperasi yang menyalurkan kedelai kepada para pengrajin tempe dan tahu. Namun,
persaingan yang terjadi sangatlah ketat.
Secara ringkas akan peneliti
sajikan daftar tabel peluang dan ancaman eksternal PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota
Malang :
Peluang
|
Ancaman
|
a. Pembinaan dan pelatihan koperasi
dan UKM
b. Berkembangnya teknologi
informasi dan komunikasi
|
a. Persaingan harga kedelai dengan
usaha sejenis
b. Kurangnya pemahaman masyarakat
tentang koperasi
|
Berikut ini akan peneliti sajikan
analisis audit internal PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang berdasarkan aundit
internal menurut David :
1. Manajemen, dapat
dilihat dari aspek-aspek berikut ini:
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pelaksanaan
d. Pengawasan
2. Pemasaran
PRIMKOPTI
Bangkit Usaha Kota Malang sebagai salah satunya penyalur kedelai yang berbentuk
koperasi di Kota Malang memiliki kekuatan tersendiri di sisi pemasaran
dikarenakan terget pasarnyanya adalah para anggota koperasi.
3. Operasi
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang membeli
produk kedelai dari Amerika Serikat. PRIMKOPTI hanya memenuhi kebutuhan anggota
akan bahan baku kedelai yang selanjutnya akan diproses menjadi tahu ataupun
tempe di dapur masing-masing anggota atau dengan kata lain mendistribusikan
kedelai dari pemasok kepada anggota atau pelanggan PRIMKOPTI.
4. Penelitian dan Pengembangan
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang
telah memiliki divisi khusus untuk penelitian dan pengembangan koperasi. Riset
yang dilkukan yaitu pada petani kedelai. Pengembangan teknologi pengelolaan
kedelai saat ini masih diusahakan untuk pengadaan mesih pemecah kedelai.
5. Sistem Informasi manajemen
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang
sebagi suatu organisasi yang bersaing di pasar bebas seharusnya memiliki sistem
informasi manajemen yang terpadu. Namun hal tersebut belum sepenuhnya dapat
dilakukan. PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang sampai dengan saat ini hanya
menerima informasi, mengolah data, memberikan laporan dari lingkungan internal.
kekuatan dan kelemahan internal
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang
Kekuatan
|
kelemahan
|
a. pengurus yang berpengalaman
b. memiliki hubungan baik dengan
pemerintah
c. satu-satunya distributor
berbentuk koperasi
d. letak kantor dan gudang yang
startegis
e. Memiliki usaha simpan pinjam
yang berkembang
f. Fasilitas memadai
|
a. Kurangnya pemahaman anggota
terhadap koperasi
b. Kurangnya pemahaman anggota
terhadap anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ADART
c. Kurangnya kepedulian anggota
terhadeap koperasi
|
alternatif strategi yang
dihasilkan Matriks SWOT untuk PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang antara lain :
1. Strategi SO : Mengembangkan
strategi promosi
.
2. Strategi WO : Mengembangkan
kemampuan anggota
3. Strategi ST : Meningkatkan sistem
manajemen pengendalian persediaan
4. Strategi WT : Menerapkan sistim
manajaemen informasi yang terpadu
Kesimpulan :
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
(UKM) dan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Ancaman
eksternal yang harus dihadapi PRIMKOPTI adalah persaingan harga kedelai di
pasar dan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kopersi. Pembagian sisa
hasil usaha dilakukan secara adil dan sebanding dengan besarnya jasa usaha
masing-masing anggota., Pemberian balas jasa yang terbatas pada modal, KemandirianPendidikan
perkoperasian dan Kerjasama antar koperasi. PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang
diharapkan dapat mensosialisasikan strategi dan program yang telah dirumuskan
kepada seluruh pengurus, badan pengawas, karyawan serta anggota PRIMKOPTI Bangkit
Usaha Kota Malang sehingga setiap orang memiliki rasa tanggung jawab dan
motivasi untuk dapat melaksanakan strategi ini perlu adanya komitmen dan
konsistensi sehingga pada pelaksanaannya sebaiknya diikuti dengan evaluasi
secara bertahap.
Ringkasan Jurnal 2
PENINGKATAN
PARTISIPASI ANGGOTA
DALAM
RANGKA MENUNJANG PENGEMBANGAN
USAHA KOPERASI
Oleh : Achma Hendra Setiawan
Partisipasi
adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok
yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan
ikut berbagi tanggung jawab atas tercapainya tujuan tersebut. Dari pengertian
tersebut muncul tiga gagasan penting dalam partisipasi, yaitu keterlibatan,
kontribusi dan tanggung jawab. Partisipasi akan melibatkan mental dan emosional
para anggotanya, bukan hanya melibatkan aktivitas fisik saja, melainkan
melibatkan "diri orang itu sendiri". Keterlibatan di sini lebih
bersifat psikologis, sehingga seseorang yang berpartisipasi dalam koperasi
tidak sekadar terlibat dalam tugas-tugasnya, tetapi akan melibatkan egonya
pula. partisipasi akan mendorong para anggota koperasi untuk menerima tanggung
jawab dalam aktivitas organisasi. Apabila para anggota berbicara tentang
organisasi koperasinya, maka mereka akan berkata "kami", bukan
"mereka". Partisipasi telah menjadikan para anggota, pengurus,
pengelola, dan pengawas tidak sekadar pelaksana seperti mesin, namun menjadi perangkat organisasi yang bertanggung
jawab.
Pembahasan
Para anggota
koperasi adalah pemilik dan sekaligus sebagai pengguna jasa atau pelanggan bagi
koperasi tersebut. Dalam partisipasi anggota koperasi menjadi dua kelompok,
yaitu:
1. Partisipasi
anggota sebagai pemilik.
Disebut dengan partisipasi kontributif, karena para
anggota berpartisipasi dengan memberikan kontribusinya terhadap pembentukan dan
pertumbuhan koperasi, dalam bentuk keuangan, misalnya membayar
simpanan-simpanan, pembentukan cadangan dan penyertaan modal (capital
resources). Di samping itu, para anggota juga mengambil bagian dalam
penetapan tujuan (goal system), ikut serta dalam pengambilan keputusan (decision
making), dan ikut serta dalam mengawasi jalannya koperasi (control).
2. Partisipasi
anggota sebagai pelanggan
Disebut juga
partisipasi insentif, yaitu para anggota koperasi memanfaatkan berbagai potensi
atau jasa pelayanan yang diberikan koperasi (services) untuk menunjang berbagai
kepentingannya, seperti: pembelian, penjualan, kredit, produksi, dan lain-lain.
Partisipasi anggota dalam pemupukan modal memberikan kekuatan finansial bagi
organisasi koperasi. Semakin besar modal yang terkumpul, semakin besar pula peluang
untuk memperluas jangkauan usahanya. Koperasi yang bermodal kecil tentu akan
mengalami kesulitan dalam bersaing dengan pelaku atau lembaga ekonomi lainnya(tengkulak,
pedagang, bank). Partisipasi anggota dalam pembelian lebih ditentukan oleh
kesesuaian antara kebutuhan atau keinginan anggota dengan penyediaan barang dan
jasa yang dilakukan oleh koperasi. Partisipasi anggota dalam penjualan barang
atau jasa pada koperasi sangat tergantung pada saluran distribusi dan biaya
pemasaran. Semakin pendek jalur pemasarandan semakin rendah biaya pemasaran
yang bisa ditawarkan oleh koperasi, maka semakin tinggi manfaat (advantage) yang
diterima oleh anggota.
Menurut Ropke,
Jochen (2000) ada 3 bentuk partisipasi, yaitu:
1. Kesediaan anggota untuk memberikan sumbangan
cumber daya ekonomis (economic resources)
2.
Keikutsertaan anggota dalam pengambilan
keputusan (decision making)
3.
Kesediaan anggota untuk memanfaatkan
jasa-jasa / pelayanan koperasi (services)
Dimana
partisipasi anggotaakan efektif apabila terjadi kesesuaian antara:
1.
Output program koperasi dengan kebutuhan dan keinginan para anggotanya.
2.
Permintaan anggota dengan keputusan-keputusan manajemen koperasi.
3.
Tugas-tugas program koperasi dengan kemampuan manajemen koperasi.
PROGRAM
OUTPUT TASK
NEEDS ABILITY
MEMBERS MANAGEMENT
DEMAND DECISION
Program di susun
oleh pengurus dan dibuat oleh pemerintah termasuk anggarannya untuk
dilaksanakan oleh koperasi. Program dilaksanakan oleh pengurus sesuai dengan tugas-tugas
(task) yang telah dijabarkan. Tugas-tugas tersebut harus disesuaikan
dengan kemampuan (ability) pengurus. Selanjutnya, manajemen membuat
keputusan (decision) berdasarkan permintaan (demand) anggota.
Permintaan (demand) anggota tersebut harus
sesuai (fit) dengan
kebutuhan (needs) anggota.
Peningkatan partisipati
Peningkatan
partisipasi berarti mengikutsertakan semua komponen atau unsur yang ada
sehingga merasa ikut terlibat di dalam proses pembuatan perencanaan dan
pengambilan keputusan. Cara untuk meningkatkan partisipasi adalah sebagai
berikut (Hendar dan
Kusnadi, 1999):
1.
Menjelaskan tentang maksud dan tujuan perencanaan serta keputusan yang akan
dikeluarkan.
2.
Meminta tanggapan atau saran tentang perencanaan dan keputusan yang akan
dikeluarkan.
3.
Meminta informasi tentang segala sesuatu dari semua komponen dalam usaha
membuat
keputusan dan mengambil keputusan.
4.
Memberikan kesampatan yang lama kepada semua komponen atau unsur yang ada.
5.
Meningkatkan pendelegasian wewenang.
Dalam upaya
peningkatan partisipasi tersebut setidak-tidaknya harus mampu meningkatkan rasa
harga diri dan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging). sehingga
semua rencana dan keputusan yang dibuat akan dapat dilaksanakan dan
direalisasikan dengan lancar dan baik.
Kesimpulan
Partisipasi
mengandung potensi luar biasa untuk membina dan mengembangkan kinerja seorang
individu, kelompok dan bahkan organisasi. Apabila partisipasi dilakukan dengan
baik, maka akan diperoleh minimal dua hasil terbaik, yaitu perubahan dan
keterikatan terhadap tujuan yang dilandasi kesadaran akan tanggung jawab
yang diemban
masing-masing anggota yang pada akhirnya akan mendorong timbulnya suatu hasil
prestasi yang baik dalam pengembangan usaha koperasi.
Ringkasan
Jurnal 3
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN KOPERASI
DI KOTA MEDAN DENGAN METODE ANALISIS SWOT
DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Oleh :
Ali Sakti Hamonangan Nasution
Paidi Hidayat
Ekonomi kerakyatan mengandung makna bahwa sistem ekonomi mendeskripsikan
pentingnya penguatan kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak yang
bersumber pada kedaulatan rakyat. Ekonomi kerakyatan harus ditopang dari bawah,
dimana rakyat secara partisipatif memiliki kesempatan aktif dalam kegiatan
ekonomi yang dapat menghidupi diri sendiri (self sufficient), membangun
dirinya sendiri (self empowering), bersumber dari rakyat dan dikelola
oleh rakyat atau masyarakat sendiri untuk meraih nilai tambah ekonomi dan nilai
tambah sosial. Pengembangan koperasi adalah hal yang sesuai dengan identik
pengembangan ekonomi kerakyatan. Latar belakang sejarah perkoperasian nasional
maupun global menunjukan bahwa koperasi adalah institusi yang diciptakan untuk
melindungi kaum miskin dan lemah. Kata “koperasi” (cooperative) dan
rakyat (people) adalah dua kata kunci yang melekat sangat erat. Kata
rakyat (people) dipakai untuk menghindari anggapan bahwa gerakan
koperasi bersifat elitis. Penggunaan kata semacam ini memang memunculkan kesan
dikotomis, yakni membedakan dengan tegas perekonomian rakyat dengan sektor
usaha besar (konglomerat). Koperasi yang identik dengan sistem ekonomi
kerakyatan diyakini dapat menjadi alternatif untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan sosial ekonomi Indonesia. Akan tetapi, hingga saat ini
gerakan koperasi di Indonesia masih lebih dominan sebagai gerakan moral
dibandingkan sebagai gerakan ekonomi yang secara konkret mampu meningkatkan
kesejahteraan ekonomi para anggotanya.
PEMBAHASAN
Perkembangan
Koperasi di Kota Medan
Untuk mengetahui strategi dalam perkembangan koperasi
kota Medan dilakukan analisis hierarkiproses dengan menggunakan bantuan program
komputer Expert Choice 11. Penentuan strategi ini merupakan pendapat
dari tiga orang pakar koperasi. Dari struktur hierarki proses strategi
pengembangan koperasi di kota Medan di atas dapat kita lihat bahwa strategi
pengembangan koperasi di kota Medan ditentukan oleh 4 faktor yaitu:
1.
Faktor Kekuatan
Faktor
yang menjadi kekuatan dalam pengembangan koperasi di kota Medan yaitu:
penggunaan teknologi yang modern, komunikasi yang baik antara pengurus dengan
anggota koperasi, ketersediaan barang dan jasa di koperasi, partisipasi anggota
koperasi, kedisplinan anggota, fasilitas kegiatan produksi yang lengkap, dan
bentuk usaha berbadan hukum.
2.
Faktor Kelemahan
Yang
menjadi faktor kelemahan dalam pengembangan koperasi di kota Medan adalah:
tingkat pendidikan pengurus dan anggota koperasi, pembukuan yang kurang baik,
dan RAT yang belum sepenuhnya berjalan.
3.
Faktor Peluang
Faktor
peluang dalam pengembangan koperasi di kota Medan yaitu : perbedaan harga
produk yang dihasilkan koperasi, kesediaan koperasi dalam bermitra dengan badan
usaha lain, adanya otonomi daerah, pelaksanaan penyuluhan dan pendidikan
koperasi, realisasi bantuan dana dari pemerintah, respon pengurus dan anggota
koperasi dan perkembangan teknologi informasi.
4.
Faktor Ancaman
Yang menjadi faktor ancaman dalam pengembangan
koperasi di kota Medan yaitu : naiknya harga BBM, kebijakan Pemerintah tentang
pembatasan usaha koperasi, dan saingan koperasi.
Hasil Pengolahan Vertikal
Penentuan Strategi Pengembangan Koperasi
di Kota Medan
Strategi Pengembangan
Koperasi
|
Bobot
|
Peningkatan Produksi
|
298
|
Peningkatan SDM
|
190
|
Peranan Pemerintah
|
188
|
Perbaikan Manajemen
|
129
|
Kerjasama dengan Badan Usaha
Lain
|
086
|
Efisiensi Harga Produk
|
109
|
Hasil
pengolahan vertikal pada Tabel 3 menunjukan bahwa strategi pengembangan
koperasi di kota Medan adalah peningkatan produksi, artinya dengan meningkatkan
produksi yang dihasilkan oleh koperasi baik secara kuantitas maupun kualitas
akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dari koperasi. Hal tersebut
tentu saja akan berpengaruh terhadap perkembangan koperasi.
Hasil
analisis hierarki proses strategi pengembangan koperasi di kota Medan dapat
dilihat pada Gambar 2.
Dari
Gambar 2 dapat kita lihat bahwa strategi utama dalam pengembangan koperasi di
kota Medan adalah peningkatan produksi dengan bobot nilai 298, kemudian
peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan nilai 190, peranan pemerintah
dengan nilai 188, perbaikan manajemen koperasi dengan nilai 129, efisiensi
harga produk dengan nilai 109 dan yang terakhir adalah kerjasama dengan badan
usaha lain dengan nilai 086.
Dari
hasil pengolahan vertikal yang telah dilakukan, dihasilkan rasioinkonsistensi
sebesar lima persen yang artinya bahwa penilaian respondenmemiliki tingkat
kepercayaan yang tinggi dengan rasio bias sebesar lima persen.Nilai rasio
inkonsistensi sebesar lima persen merupakan penyimpangan yangmasih
diperbolehkan dalam analisis hierarki proses, karena masih memiliki nilaidi
bawah sepuluh persen.
Dari analisis hierarki yang telah dilakukan dalam
menentukan strategi pengembangan koperasi di kota Medan diperoleh bahwa strategi
utama yang harus dilakukan dalam pengembangan koperasi di kota Medan adalah
peningkatan produksi.
Analisisi Matriks
SWOT Strategi Pengembangan Koperasi di Kota Medan
Kekuatan (S)
1. Penggunaan teknologi
modern
2. Komunikasi antara pengurus
dan anggota koperasi
3. Ketersediaan barang dan
jasa di koperasi
4. Partisipasi anggota
koperasi
5. Kedisiplinan anggota
koperasi
6. Fasilitas kegiatan
produksi
7. Bentuk usaha berbadan
hukum
|
Kelemahan (W)
1. Tingkat pendidikan
pengurus dan anggota koperasi
2. Pembukuan yang kurang baik
3. RAT yang belum sepenuhnya
berjalan
|
Peluang (O)
1. Perbedaan harga produk
yang dihasilkan koperasi
2. Kesediaan koperasi dalam
bermitra dengan badan usaha lain
3. Adanya otonomi daerah
4. Pelaksanaan penyuluhan dan
pendidikan koperasi
5. Realisasi bantuan dana
dari Pemerintah
6. Respon pengurus dan
anggota koperasi
7. Perkembangan teknologi
informasi
|
Strategi SO
1. Peningkatan produksi
2. Efisiensi harga produk
3. Perbaikan Manajemen
4. Peningkatan Kualitas SDM
|
Ancaman (T)
1. Naiknya harga BBm
2. Kebijakan pemerintah
tentang pembatasan usaha koperasi
3. Saingan koperasi
|
|
|
|
|
1.
Strategi S-O
Strategi
ini dilakukan untuk memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut peluang sebesar-besarnya.
Adapun strategi S-O adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan Produksi
Jenis
usaha yang sering menjadi andalan koperasi di kota Medan adalah susu, kredit
usaha tani, penggilingan padi, pengadaan pupuk dan obat, simpan pinjam,
pertokoan, dan jasa tagihan listrik atau air.
b. Efisiensi Harga Produk
Selain
meningkatkan produksi secara kuantitas dan kualitas, koperasi juga harus dapat
mengefisiensikan harga produk yang dihasilkan nya.
c. Perbaikan Manajemen
Ketidak
amanahan dari pengurus dan anggota akan membawa koperasi pada jurang
kehancuran. Inilah yang harus diperkecil dengan implementasi GCG.
d. Peningkatan Kualitas SDM
Salah
satu cara untuk meningkatkan kemampuan SDM yang menangani bagian pembukuan
koperasi adalah dengan meningkatkan kemampuan mereka.
Kesimpulan :
Hasil
analisis hierarki proses, maka didapatkan strategi pengembangan koperasi di
kota Medan yang utama adalah dengan peningkatan produksi koperasi baik secara
kuantitas maupun kualitas agar anggota koperasi selalu menggunakan koperasi
dalam kegiatan ekonominya sehingga kegiatan koperasi dapat terus berjalan dan
berkesinambungan. Hasil analisis SWOT diperoleh strategi pengembangan koperasi
di kota Medan, yaitu peningkatan produksi, peningkatan SDM koperasi, peranan
pemerintah, perbaikan manajemen koperasi, kerjasama dengan badan usaha lain,
dan efisiensi harga produk yang dihasilkan koperasi.
Nama : Warsilia Wilna Setiana
Kelas : 3EA16
NPM : 1C214185
Matkul : Ekonomi Koperasi
Tugas : Ringkas 3 Jurnal Koperasi