ringkasan jurnal koperasi



Ringkasan Jurnal 1

STRATEGI PENGEMBANGAN PRIMER KOPERASI
Studi Di Primer Koperasi Produsen Tempe Dan Tahu Indonesia (PRIMKOPTI) Bangkit Usaha Kota Malang

Oleh :
Rachma Vita Oktaviana, Agus Suryono, Imam Hanafi

 koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Koperasi produsen merupakan koperasi yang beranggotakan para produsen barang dan memiliki usaha rumah tangga. Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (KOPTI) disebut sebagai koperasi produsen karena bertugas untuk meningkatkan kemampuan ekonomi perusahaan-perusahaan anggota (usaha pengolahan tempe dan tahu milik anggota). Koperasi Berkualitas adalah koperasi sebagai badan usaha aktif yang dicirikan oleh prinsip-prinsip kohesivitas dan partisipasi anggota yang kuat dengan kinerja usaha yang semakin sehat dan berorientasi kepada usaha anggota serta memiliki kepedulian sosial. mengembangkan koperasi maka koperasi juga harus melaksanakan pula prinsip koperasi yaitu keanggotaan bersifat suka rela dan terbuka, pengelolaan dilaksanakan secara demokratis, pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usahamasing-masing anggota, pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal, kemandirian, pendidikan perkoperasian, serta kerja sama antar Koperasi . Pengertian strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan: a)Kebijaksanaan pelaksanaan b)Penentuan tujuan yang hendak dicapai c)Penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana-sarana tersebut.

Pembahasan
Visi dan misi Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (PRIMKOPTI) Bangkit Usaha adalah sebagai berikut : Visi “Meningkatkan Sember Daya Manusia (SDM) Seluruh Anggota Koperasi” sedangkan Misi nya adalah “Meningkatkan Kesejahteraan Anggota Koperasi”,David (2009,h.102), ada sembilan komponen pernyataan visi dan misi yang merupakan hal penting antara lain yaitu : 1)Konsumen (Customer),2)Produk atau jasa (product and service), 3)Pasar (market), 4)Teknologi (technology), 5)Fokus pada kelangsungan hidup, pertumbuhan dan pfofitabilitas (concern for survival, gorwth, and profitability), 6)Filosofi (philosophy), 7)Konsep diri (selft concept),8)Fokus pada citra publik (concern for public image), 9)Fokus pada karyawan (concern for employees).
Dalam menetapkan tujuan jangka panjang biasanya di tetapkan antara dua sampai lima tahun sekali. tujuan jangka panjang PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang yaitu untuk meningkatkan sarana prasarana koperasi. Dengan menetapkan tujuan jangka panjang meningkatkan sarana dan prasarana antara lain menyediakan mesin pemecah kedelai koperasi dan mengadakan diklat mengenai perkoperasian diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan koperasi. kekuatan eksternal dapat dibagi menjadi beberapa kategori besar yaitu

1.      Kekuatan Budaya
Konsumsi kedelai dari tahun ke tahun terus meningkat. Yang mana 50 persen digunakan dalam bentuk tempe 40 persen tahu dan sisanya untuk bahan olahan lainnya, akan tetapi yang masih diplih adalah kedelai impor yang lebih murah dari kedelai lokal

2.      Kekuatan Pemerintah
Saat ini pemerintah sedang menggalakan program-program untuk meningkatkan perekonomian rakyat dengan pengembangan UKM & koperasi,berbagai pelatihan serta pembinaan intensif dilakukan oleh pemerintah Kota Malang.

3.      Kekuatan Teknologi
Perkembangan pengetahuan teknologi budidaya kedelai telah banyak berkembang dan dilakukan di Indonesia akan tetapi belum banyak dilakukan petani lokal sehingga banyak petani enggan menanam kedelai,dan menyebabkan makin banyak impor kedelai, dalam pemecahan kedelai telah terdapat teknologi pemecah kedelai untuk mempermudah pengrajin kedelai,berkembangnya internet dapat memupuskan jarak dan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi pengrajin kedelai

4.      Kekuatan Kompetitif
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang merupakan satu-satunya wadah koperasi yang menyalurkan kedelai kepada para pengrajin tempe dan tahu. Namun, persaingan yang terjadi sangatlah ketat.
 
Secara ringkas akan peneliti sajikan daftar tabel peluang dan ancaman eksternal PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang :
Peluang
Ancaman

a. Pembinaan dan pelatihan koperasi dan UKM
b. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi


a. Persaingan harga kedelai dengan usaha sejenis
b. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang koperasi



Berikut ini akan peneliti sajikan analisis audit internal PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang berdasarkan aundit internal menurut David :
1. Manajemen, dapat dilihat dari aspek-aspek berikut ini:
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pelaksanaan
d. Pengawasan

2. Pemasaran
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang sebagai salah satunya penyalur kedelai yang berbentuk koperasi di Kota Malang memiliki kekuatan tersendiri di sisi pemasaran dikarenakan terget pasarnyanya adalah para anggota koperasi.

3. Operasi
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang membeli produk kedelai dari Amerika Serikat. PRIMKOPTI hanya memenuhi kebutuhan anggota akan bahan baku kedelai yang selanjutnya akan diproses menjadi tahu ataupun tempe di dapur masing-masing anggota atau dengan kata lain mendistribusikan kedelai dari pemasok kepada anggota atau pelanggan PRIMKOPTI.

4. Penelitian dan Pengembangan
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang telah memiliki divisi khusus untuk penelitian dan pengembangan koperasi. Riset yang dilkukan yaitu pada petani kedelai. Pengembangan teknologi pengelolaan kedelai saat ini masih diusahakan untuk pengadaan mesih pemecah kedelai.

5. Sistem Informasi manajemen
PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang sebagi suatu organisasi yang bersaing di pasar bebas seharusnya memiliki sistem informasi manajemen yang terpadu. Namun hal tersebut belum sepenuhnya dapat dilakukan. PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang sampai dengan saat ini hanya menerima informasi, mengolah data, memberikan laporan dari lingkungan internal.

kekuatan dan kelemahan internal PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang
Kekuatan
kelemahan

a. pengurus yang berpengalaman
b. memiliki hubungan baik dengan pemerintah
c. satu-satunya distributor berbentuk koperasi
d. letak kantor dan gudang yang startegis
e. Memiliki usaha simpan pinjam yang berkembang
f. Fasilitas memadai


a. Kurangnya pemahaman anggota terhadap koperasi
b. Kurangnya pemahaman anggota terhadap anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ADART
c. Kurangnya kepedulian anggota terhadeap koperasi



alternatif strategi yang dihasilkan Matriks SWOT untuk PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang antara lain :

1. Strategi SO : Mengembangkan strategi promosi
.
2. Strategi WO : Mengembangkan kemampuan anggota

3. Strategi ST : Meningkatkan sistem manajemen pengendalian persediaan

4. Strategi WT : Menerapkan sistim manajaemen informasi yang terpadu

Kesimpulan :
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Ancaman eksternal yang harus dihadapi PRIMKOPTI adalah persaingan harga kedelai di pasar dan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kopersi. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil dan sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota., Pemberian balas jasa yang terbatas pada modal, KemandirianPendidikan perkoperasian dan Kerjasama antar koperasi. PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang diharapkan dapat mensosialisasikan strategi dan program yang telah dirumuskan kepada seluruh pengurus, badan pengawas, karyawan serta anggota PRIMKOPTI Bangkit Usaha Kota Malang sehingga setiap orang memiliki rasa tanggung jawab dan motivasi untuk dapat melaksanakan strategi ini perlu adanya komitmen dan konsistensi sehingga pada pelaksanaannya sebaiknya diikuti dengan evaluasi secara bertahap.


Ringkasan Jurnal 2

PENINGKATAN PARTISIPASI ANGGOTA
DALAM RANGKA MENUNJANG PENGEMBANGAN
USAHA KOPERASI
Oleh : Achma Hendra Setiawan

Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan ikut berbagi tanggung jawab atas tercapainya tujuan tersebut. Dari pengertian tersebut muncul tiga gagasan penting dalam partisipasi, yaitu keterlibatan, kontribusi dan tanggung jawab. Partisipasi akan melibatkan mental dan emosional para anggotanya, bukan hanya melibatkan aktivitas fisik saja, melainkan melibatkan "diri orang itu sendiri". Keterlibatan di sini lebih bersifat psikologis, sehingga seseorang yang berpartisipasi dalam koperasi tidak sekadar terlibat dalam tugas-tugasnya, tetapi akan melibatkan egonya pula. partisipasi akan mendorong para anggota koperasi untuk menerima tanggung jawab dalam aktivitas organisasi. Apabila para anggota berbicara tentang organisasi koperasinya, maka mereka akan berkata "kami", bukan "mereka". Partisipasi telah menjadikan para anggota, pengurus, pengelola, dan pengawas tidak sekadar pelaksana seperti mesin, namun  menjadi perangkat organisasi yang bertanggung jawab.

Pembahasan

Para anggota koperasi adalah pemilik dan sekaligus sebagai pengguna jasa atau pelanggan bagi koperasi tersebut. Dalam partisipasi anggota koperasi menjadi dua kelompok, yaitu:

1.      Partisipasi anggota sebagai pemilik.
Disebut dengan partisipasi kontributif, karena para anggota berpartisipasi dengan memberikan kontribusinya terhadap pembentukan dan pertumbuhan koperasi, dalam bentuk keuangan, misalnya membayar simpanan-simpanan, pembentukan cadangan dan penyertaan modal (capital resources). Di samping itu, para anggota juga mengambil bagian dalam penetapan tujuan (goal system), ikut serta dalam pengambilan keputusan (decision making), dan ikut serta dalam mengawasi jalannya koperasi (control).

2.      Partisipasi anggota sebagai pelanggan
Disebut juga partisipasi insentif, yaitu para anggota koperasi memanfaatkan berbagai potensi atau jasa pelayanan yang diberikan koperasi (services) untuk menunjang berbagai kepentingannya, seperti: pembelian, penjualan, kredit, produksi, dan lain-lain. Partisipasi anggota dalam pemupukan modal memberikan kekuatan finansial bagi organisasi koperasi. Semakin besar modal yang terkumpul, semakin besar pula peluang untuk memperluas jangkauan usahanya. Koperasi yang bermodal kecil tentu akan mengalami kesulitan dalam bersaing dengan pelaku atau lembaga ekonomi lainnya(tengkulak, pedagang, bank). Partisipasi anggota dalam pembelian lebih ditentukan oleh kesesuaian antara kebutuhan atau keinginan anggota dengan penyediaan barang dan jasa yang dilakukan oleh koperasi. Partisipasi anggota dalam penjualan barang atau jasa pada koperasi sangat tergantung pada saluran distribusi dan biaya pemasaran. Semakin pendek jalur pemasarandan semakin rendah biaya pemasaran yang bisa ditawarkan oleh koperasi, maka semakin tinggi manfaat (advantage) yang diterima oleh anggota.

Menurut Ropke, Jochen (2000) ada 3 bentuk partisipasi, yaitu:
1.  Kesediaan anggota untuk memberikan sumbangan cumber daya ekonomis (economic resources)
2.  Keikutsertaan anggota dalam pengambilan keputusan (decision making)
3.  Kesediaan anggota untuk memanfaatkan jasa-jasa / pelayanan koperasi (services)

Dimana partisipasi anggotaakan efektif apabila terjadi kesesuaian antara:
1. Output program koperasi dengan kebutuhan dan keinginan para anggotanya.
2. Permintaan anggota dengan keputusan-keputusan manajemen koperasi.
3. Tugas-tugas program koperasi dengan kemampuan manajemen koperasi.

                                                            PROGRAM
                                   
                                    OUTPUT                                TASK



                                    NEEDS                                               ABILITY

                        MEMBERS                                                    MANAGEMENT
                                                DEMAND      DECISION

Program di susun oleh pengurus dan dibuat oleh pemerintah termasuk anggarannya untuk dilaksanakan oleh koperasi. Program dilaksanakan oleh pengurus sesuai dengan tugas-tugas (task) yang telah dijabarkan. Tugas-tugas tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan (ability) pengurus. Selanjutnya, manajemen membuat keputusan (decision) berdasarkan permintaan (demand) anggota. Permintaan (demand) anggota tersebut harus
sesuai (fit) dengan kebutuhan (needs) anggota.

Peningkatan partisipati
Peningkatan partisipasi berarti mengikutsertakan semua komponen atau unsur yang ada sehingga merasa ikut terlibat di dalam proses pembuatan perencanaan dan pengambilan keputusan. Cara untuk meningkatkan partisipasi adalah sebagai berikut (Hendar dan
Kusnadi, 1999):
1. Menjelaskan tentang maksud dan tujuan perencanaan serta keputusan yang akan
dikeluarkan.
2. Meminta tanggapan atau saran tentang perencanaan dan keputusan yang akan
dikeluarkan.
3. Meminta informasi tentang segala sesuatu dari semua komponen dalam usaha
membuat keputusan dan mengambil keputusan.
4. Memberikan kesampatan yang lama kepada semua komponen atau unsur yang ada.
5. Meningkatkan pendelegasian wewenang.

Dalam upaya peningkatan partisipasi tersebut setidak-tidaknya harus mampu meningkatkan rasa harga diri dan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging). sehingga semua rencana dan keputusan yang dibuat akan dapat dilaksanakan dan direalisasikan dengan lancar dan baik.

Kesimpulan
Partisipasi mengandung potensi luar biasa untuk membina dan mengembangkan kinerja seorang individu, kelompok dan bahkan organisasi. Apabila partisipasi dilakukan dengan baik, maka akan diperoleh minimal dua hasil terbaik, yaitu perubahan dan keterikatan terhadap tujuan yang dilandasi kesadaran akan tanggung jawab
yang diemban masing-masing anggota yang pada akhirnya akan mendorong timbulnya suatu hasil prestasi yang baik dalam pengembangan usaha koperasi.


Ringkasan Jurnal 3
 
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN KOPERASI
DI KOTA MEDAN DENGAN METODE ANALISIS SWOT
DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Oleh :
Ali Sakti Hamonangan Nasution
Paidi Hidayat


 Ekonomi kerakyatan mengandung makna bahwa sistem ekonomi mendeskripsikan pentingnya penguatan kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak yang bersumber pada kedaulatan rakyat. Ekonomi kerakyatan harus ditopang dari bawah, dimana rakyat secara partisipatif memiliki kesempatan aktif dalam kegiatan ekonomi yang dapat menghidupi diri sendiri (self sufficient), membangun dirinya sendiri (self empowering), bersumber dari rakyat dan dikelola oleh rakyat atau masyarakat sendiri untuk meraih nilai tambah ekonomi dan nilai tambah sosial. Pengembangan koperasi adalah hal yang sesuai dengan identik pengembangan ekonomi kerakyatan. Latar belakang sejarah perkoperasian nasional maupun global menunjukan bahwa koperasi adalah institusi yang diciptakan untuk melindungi kaum miskin dan lemah. Kata “koperasi” (cooperative) dan rakyat (people) adalah dua kata kunci yang melekat sangat erat. Kata rakyat (people) dipakai untuk menghindari anggapan bahwa gerakan koperasi bersifat elitis. Penggunaan kata semacam ini memang memunculkan kesan dikotomis, yakni membedakan dengan tegas perekonomian rakyat dengan sektor usaha besar (konglomerat). Koperasi yang identik dengan sistem ekonomi kerakyatan diyakini dapat menjadi alternatif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial ekonomi Indonesia. Akan tetapi, hingga saat ini gerakan koperasi di Indonesia masih lebih dominan sebagai gerakan moral dibandingkan sebagai gerakan ekonomi yang secara konkret mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi para anggotanya.

PEMBAHASAN
Perkembangan Koperasi di Kota Medan
Untuk mengetahui strategi dalam perkembangan koperasi kota Medan dilakukan analisis hierarkiproses dengan menggunakan bantuan program komputer Expert Choice 11. Penentuan strategi ini merupakan pendapat dari tiga orang pakar koperasi. Dari struktur hierarki proses strategi pengembangan koperasi di kota Medan di atas dapat kita lihat bahwa strategi pengembangan koperasi di kota Medan ditentukan oleh 4 faktor yaitu:

1. Faktor Kekuatan
Faktor yang menjadi kekuatan dalam pengembangan koperasi di kota Medan yaitu: penggunaan teknologi yang modern, komunikasi yang baik antara pengurus dengan anggota koperasi, ketersediaan barang dan jasa di koperasi, partisipasi anggota koperasi, kedisplinan anggota, fasilitas kegiatan produksi yang lengkap, dan bentuk usaha berbadan hukum.

2. Faktor Kelemahan
Yang menjadi faktor kelemahan dalam pengembangan koperasi di kota Medan adalah: tingkat pendidikan pengurus dan anggota koperasi, pembukuan yang kurang baik, dan RAT yang belum sepenuhnya berjalan.

3. Faktor Peluang
Faktor peluang dalam pengembangan koperasi di kota Medan yaitu : perbedaan harga produk yang dihasilkan koperasi, kesediaan koperasi dalam bermitra dengan badan usaha lain, adanya otonomi daerah, pelaksanaan penyuluhan dan pendidikan koperasi, realisasi bantuan dana dari pemerintah, respon pengurus dan anggota koperasi dan perkembangan teknologi informasi.

4. Faktor Ancaman
Yang menjadi faktor ancaman dalam pengembangan koperasi di kota Medan yaitu : naiknya harga BBM, kebijakan Pemerintah tentang pembatasan usaha koperasi, dan saingan koperasi.

Hasil Pengolahan Vertikal Penentuan Strategi Pengembangan Koperasi
di Kota Medan
Strategi Pengembangan Koperasi
Bobot
Peningkatan Produksi
298
Peningkatan SDM
190
Peranan Pemerintah
188
Perbaikan Manajemen
129
Kerjasama dengan Badan Usaha Lain
086
Efisiensi Harga Produk
109

Hasil pengolahan vertikal pada Tabel 3 menunjukan bahwa strategi pengembangan koperasi di kota Medan adalah peningkatan produksi, artinya dengan meningkatkan produksi yang dihasilkan oleh koperasi baik secara kuantitas maupun kualitas akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dari koperasi. Hal tersebut tentu saja akan berpengaruh terhadap perkembangan koperasi.
Hasil analisis hierarki proses strategi pengembangan koperasi di kota Medan dapat dilihat pada Gambar 2.

Dari Gambar 2 dapat kita lihat bahwa strategi utama dalam pengembangan koperasi di kota Medan adalah peningkatan produksi dengan bobot nilai 298, kemudian peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan nilai 190, peranan pemerintah dengan nilai 188, perbaikan manajemen koperasi dengan nilai 129, efisiensi harga produk dengan nilai 109 dan yang terakhir adalah kerjasama dengan badan usaha lain dengan nilai 086.

Dari hasil pengolahan vertikal yang telah dilakukan, dihasilkan rasioinkonsistensi sebesar lima persen yang artinya bahwa penilaian respondenmemiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dengan rasio bias sebesar lima persen.Nilai rasio inkonsistensi sebesar lima persen merupakan penyimpangan yangmasih diperbolehkan dalam analisis hierarki proses, karena masih memiliki nilaidi bawah sepuluh persen.

Dari analisis hierarki yang telah dilakukan dalam menentukan strategi pengembangan koperasi di kota Medan diperoleh bahwa strategi utama yang harus dilakukan dalam pengembangan koperasi di kota Medan adalah peningkatan produksi.

Analisisi Matriks SWOT Strategi Pengembangan Koperasi di Kota Medan

Kekuatan (S)
1. Penggunaan teknologi modern
2. Komunikasi antara pengurus dan anggota koperasi
3. Ketersediaan barang dan jasa di koperasi
4. Partisipasi anggota koperasi
5. Kedisiplinan anggota koperasi
6. Fasilitas kegiatan produksi
7. Bentuk usaha berbadan hukum

Kelemahan (W)
1. Tingkat pendidikan pengurus dan anggota koperasi
2. Pembukuan yang kurang baik
3. RAT yang belum sepenuhnya berjalan

Peluang (O)
1. Perbedaan harga produk yang dihasilkan koperasi
2. Kesediaan koperasi dalam bermitra dengan badan usaha lain
3. Adanya otonomi daerah
4. Pelaksanaan penyuluhan dan pendidikan koperasi
5. Realisasi bantuan dana dari Pemerintah
6. Respon pengurus dan anggota koperasi
7. Perkembangan teknologi informasi

Strategi SO
1. Peningkatan produksi
2. Efisiensi harga produk
3. Perbaikan Manajemen
4. Peningkatan Kualitas SDM

Ancaman (T)
1. Naiknya harga BBm
2. Kebijakan pemerintah tentang pembatasan usaha koperasi
3. Saingan koperasi







1. Strategi S-O
Strategi ini dilakukan untuk memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut peluang sebesar-besarnya. Adapun strategi S-O adalah sebagai berikut :

a. Peningkatan Produksi
Jenis usaha yang sering menjadi andalan koperasi di kota Medan adalah susu, kredit usaha tani, penggilingan padi, pengadaan pupuk dan obat, simpan pinjam, pertokoan, dan jasa tagihan listrik atau air.

b. Efisiensi Harga Produk
Selain meningkatkan produksi secara kuantitas dan kualitas, koperasi juga harus dapat mengefisiensikan harga produk yang dihasilkan nya.

c. Perbaikan Manajemen
Ketidak amanahan dari pengurus dan anggota akan membawa koperasi pada jurang kehancuran. Inilah yang harus diperkecil dengan implementasi GCG.

d. Peningkatan Kualitas SDM
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan SDM yang menangani bagian pembukuan koperasi adalah dengan meningkatkan kemampuan mereka.

Kesimpulan :

Hasil analisis hierarki proses, maka didapatkan strategi pengembangan koperasi di kota Medan yang utama adalah dengan peningkatan produksi koperasi baik secara kuantitas maupun kualitas agar anggota koperasi selalu menggunakan koperasi dalam kegiatan ekonominya sehingga kegiatan koperasi dapat terus berjalan dan berkesinambungan. Hasil analisis SWOT diperoleh strategi pengembangan koperasi di kota Medan, yaitu peningkatan produksi, peningkatan SDM koperasi, peranan pemerintah, perbaikan manajemen koperasi, kerjasama dengan badan usaha lain, dan efisiensi harga produk yang dihasilkan koperasi.


Nama              : Warsilia Wilna Setiana
Kelas                : 3EA16
NPM                : 1C214185
Matkul             : Ekonomi Koperasi
Tugas               : Ringkas 3 Jurnal Koperasi

0 komentar:

Template by:

Free Blog Templates