Buku CSR dan Kebijakan Perusahaan

Buku
CSR dan Kebijakan Perusahaan

CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggungjawab sosial terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan. Secara konseptual, CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders). Definisi formal dari tanggungjawab sosial (social responsibility) adalah kewajiban manajemen untuk membuat pilihan dan mengambil tindakan yang berperan dalam mewujudkan kesejahteraan dan masyarakat. Tanggungjawab perusahaan pada masyarakat saat ini dikenal dengan istilah CSR (corporate social responsibility). Pembahasan tentang CSR pada era sekarang ini mulai meningkat sehubungan dengan banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat akibat tindakan perusahaan.
Pembahasan CSR semakin berkembang sesuai dengan perkembang waktu, para pengelola bisnis semakin menyadari akan peran serta fungsi dari CSR dalam mempengaruhi pembentukan kinerja suatu perusahaan. Seperti pada masa tahun 1990-an banyak kalangan mulai memberikan penafsiran yang beragam tentang CSR tersebut. Tahun 1990-an dianggap sebagai tahun yang begitu tinggi menyangkut pembahasan CSR, dan itu diikuti oleh dukungan serta tekanan dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Sejak itu banyak model CSR diperkenalkan termasuk Corporate Social Performance (CSP), Business Ethics Theory (ET), dan Corporate Citizenship, sejak itu CSR menjadi tradisi baru dalam dunia usaha dibanyak negara. Meskipun sesungguhnya memiliki pendekatan yang relatif berbeda, beberapa nama lain yang memiliki kemiripan atau bahkan identik dengan CSR ini antara lain : investasi sosial perusahaan (Corporate Social Investment / Investing), kedermawanan perusahaan (Corporate Philanthropy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community Relations), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development).
Dengan perkembangan yang begitu pesat itu telah melahirkan dua metode dalam memperlakukan CSR, yaitu :
1.      Metode Cause Branding, adalah pendekatan top down dalam hal ini perusahaan menentukan masalah sosial dan lingkungan seperti apa yang perlu dibenahi.
2.      Metode Venture Philanthropy, yang merupakan pendekatan button up, disini perusahaan membantu berbagai pihak non-provit dalam masyarakat sesuai dengan apa yang dikehendaki masyarakat.

Manfaat CSR Bagi Perusahaan
Pada dasarnya dengan menerapkan CSR ada banyak manfaat yang akan diterima. Ini sebagaimana dikatakan oleh Suhandari M. P. bahwa manfaat CSR bagi perusahaan antara lain:
a.       Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra merk perusahaan
b.      Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial
c.       Mereduksi risiko bisnis perusahaan
d.      Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha
e.       Membuka peluang pasar yang lebih luas
f.       Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuatan limbah
g.      Memperbaiki hubungan dengan stakeholders
h.      Memperbaiki hubungan dengan regulator
i.        Meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan
j.        Peluang mendapatkan penghargaan 

Manfaat lain yang akan dirasa oleh pihak perusahaan dengan menerapkan CSR berdampak jangka panjang. Salah satunya jika perusahaan ternyata menemukan potensi lain di daerah tersebut maka masyarakat dan pemerintah disana akan dengan cepat mendukung keberadaan perusahaan tersebut. Seperti pada perusahaan migas yang beroperasi di suatu daerah, dimana selama ini perusahaan ikut melaksanakan kebijakan CSR dan mengembangkan konsep community development (CD). Dengan demikian, apabila perusahaan melakukan program-program CSR diharapkan keberlanjutan, sehingga perusahaan akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, program CSR lebih tepat apabila digolongkan sebagai investasi dan harus menjadi strategi bisnis dari suatu perusahaan.

Indikator CSR dan Model Penerapan di Indonesia
Untuk melihat dan mengukur keberhasialn penerapan CSR pada suatu perusahaan ada beberapa indikator yang dapat kita jadikan acuan. Menurut Dodi Prayogo ada lima indikator keberhasilan CSR yang dapat dilihat, yaitu :
1.      Secara umum, keberhasilan CSR dapat dilihat dari capaian nilai etika yang dikandungnya yaitu turut menegakkan/ social justice sustainability dan equity.
2.      Secara sosial, keberhasilan CSR dapat dinilai dari tinggi rendahnya legitimasi sosial korporasi di hadapan stakeholders sosialnya.
3.      Secara bisnis, keberhasilan CSR dapat dinilai dari meningkatnya nilai saham akibat peningkatan corporate social image.
4.      Secara teknis, keberhasilan CSR dapat dilihat dari capaian program hasil evaluasi lapangan.
Indikator diatas dilihat secara umum, dalam realitanya dapat melihat indikator tersebut lebih banyak lagi dan disesuaikan dengan bentuk bisnis yang dijalankan oleh korporasi tersebut. Seperti bisnis pertambangan, tekstil, telekomunikasi, entertainment, dan lain sebagainya.
Menurut Saidi dan Abidin (2004 : 64-65) sedikitnya ada empat model atau pola CSR yang umumnya diterapkan di Indonesia.
1.      Keterlibatan langsung
2.      Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan
3.      Bermitra dengan pihak lain
4.      Mendukung atau bergabung dalam konsorsium.





Tanggungjawab Sosial Perusahaan
A.       Tanggung jawab sosial perusahaan dan masyarakat
Di dalam prakteknya tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR) oleh korporasi besar, kususnya disektor industri  ekstraktif. Ada dua macam motivasi utama sebagai berikut:
1.      Akomodasi
Yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superfisial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial.
2.      Lejitimasi
Yaitu motivasi yang bertujuan untuk memengaruhi wacana. Motivasi ini beragumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalias dan lebih khusus, kiprah para korporasi raksasa

B.       Tanggungjawab perusahaan terhadap pemanasan global
CSR menunjukkan pada transparansi dampak sosial atas kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Transparasi informasi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan, tetapi perusahaan juga diharapkan informasi mengania dampak sosial dan lingkungan hidup yang diakibatkan aktivtas perusahaan. Hal ini akan dapat memacu adanya perubahan pada tingkat kesadaran  masyarakat yang memunculkan pandangan baru tentang pentingnya melaksakan apa yang kita kenal saat ini sebagai CSR.

Pada hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro Brazilia 1992, menyepakati perubahan paradigma pembangunan, dari pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan yang berkelanjutan. Dalam perspektif perushaan, yang dimaksud berkelanjutan adalah suatu program sebagai dampak dari usaha-usaha yang telah dirintis. Ada 5 faktor sehingga konsep berkelanjutan menjadi penting :
1.      Ketersediaan dana
2.      Misi lingkungan
3.      Tanggung jawab sosial
4.      Terimplementasi dalam kebijakan (masyarkat, komporat, pemerintah)
5.      Mempunyai nilai keuntungan atau manfaat
Sustainable development memerlukan dua prakondisi yaitu Social Responsibility dan Eviromnent Responsibility. Dengan dapat terpenuhinya tanggung jawab sosial dan lingkungan akan dapat memudahkan tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Sebab sumber-sumber produksi yang sangat penting bagi aktivitas perusahaan yaitu tenaga kerja, bahan baku, dan pasar telah dapat lebih terpelihara. Ketiga konsep ini menjadi dasar bagi perusahaan dalam melaksakan CSR.


Tangungjawab Sosial Suatu Bisnis
A.       Klasifikasi aspek pendorong tanggungjawab sosial
Pelaksanaan tanggung jawab sosial yang harus dilaksakan oleh suatu perusahaan menuntut diperlakukannya etika bisnis. Perushaan yang tidak memperhatikan kepentingan  umum dan kemudian menimbulkan gangguan lingkungan akan dianggap sebagai bisnis yang tidak etis. Dorongan pelaksaan etika bisnis itu pada umumnya datang dari luar yaitu lingkungan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pelaksaan tanggung jawab sosial oleh suatu bisnis tidak lepas dari beban biaya yang kadang-kadang cukup besar jumlahnya.
B.     Dorongan tanggung jawab sosial
Adapun masalah-masalah sosial yang mendorong suatu bisnis melaksanakan  tanggung jawab sosialnya yaitu:
1.      Penerapan Mejemenen Orientasi Kemanusiaan
Manfaat dari penerapan menejemen orientasi kemanusiaan:
a.       Moral kerja karyawan akan meningkat dan kemudian akan mendorong semangat kerja sehinggan produktivitas kerja akan meningkat.
b.      Partisipasi bawahan akan muncul dan menimbukan rasa memiliki dari para bawahan sehingga akan tercipta menejemen partisipatif.
c.       Hubungan kerja yang baik dan menyenangkan akan membawa kenyamanan kerja sehingga absensi karyawan akan berkurang.
d.      Rasa percaya diri dari para karyawan juga akan terbentuk , hal ini akan mempertinggi mutu atau kualitas produksinya.
e.       Kepercayaan masyarakat akan meningkat dan hal ini merupakan modal dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan yang bersangkutan.

C.     Bentuk-bentuk tanggungjawab sosial suatu bisnis
1.      Pelaksaan Hubungan Industrial Pancasila (HIP)
HIP seringdikenal sebagai Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). KKB ini merupakan sebuah pedoman tentang hubungan antara pengusaha dengan para pekrja atau karyawan perusahaan yang biasanya dituangkan dalam sebuah buku. Dalam KKB ini diadakan berbagai ketentuan tentang hak-hak serta kewajiban perushaan.
2.      Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Wujud nyata dari AMDAL ini tercermin dalam pelaksaan limbah industri sedemikian rupa sehingga limah tersebut menjadi tidak mengganggu lingkungan.
3.      Penerapan prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Perusahaan yang memperoleh penghargaan ini berarrti telah menjalankan proses produksi sedemikian lama tanpa mengalami kecelakaan kerja bagi karyawan. Hal ini merupakan prestasi yang cukup bagus dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja.

4.      Perkebunan Inti Rakyat (PIR)
Pelaksaan program pemerintah yang berupa PIR dimana dalam hal ini perkebunan besar yang basanya adalah miliki negara merupakan intinya yang akan menjadi motor penggerak pembangunan perkebunan rakyat disekitarnya yang merupakan plasma.
5.      Sistem Bapak Angkat Anak Angkat
Praktik tersebut tentu saja dapat tidak mudah dilaksanakan karena diperlukan kesadaran yang tinggi dari pengusaha besar yang bersedia untuk membantu perkembangan bagi pengusaha kecil yang sering kali banyak menimbulkan persoalan bagi pengusaha besar yang menjadi bapak angkat.

Buku
1.      Pengantar Ilmu Administrasi Bisnis, Irham Fahmi, Alfabeta 2015.
2.      Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, Agus Arijanto, Edisi ketiga, 2014.
3.    Pengantar Bisnis, Drs. Indriyo Gitosudarmo, M.com Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Edisi Kedua, 1996.

Nama : Warsilia Wilna Setiana
Kelas : 3EA16
NPM : 1C214185
Tugas : Etika Bisnis

0 komentar:

Template by:

Free Blog Templates